Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketegangan Antara IDI dengan Kemenkes Indonesia

Dokter merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki posisi dan peringkat sosial yang tinggi di masyarakat. Ketegangan antara (IDI) Ikatan Dokter Indonesia dengan Menkes - Kementrian Kesehatan Indonesia kali ini menyita perhatian publik. Banyak permasalahan di dalam negri yang membuat masyarakat awam menjadi gerah untuk mengupas topik yang satu ini. Bagaimana tidak? Sudah menjadi rahasia umum dan benang kusut yang tak berujung ketika meliha ke dalam konflik kedokeran ini.


Mengapa isu ini penting untuk diketahui bersama seluruh masyarakat Indonesia. Hal terpenting berkaitan dengan jiwa raga atau nyawa setiap insan manusia di tanah air ini. Mungkin pembicaraan ini lebih kena ketika kita mewakili saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman maupun tempat terpencil di negri kita. Jelas menjadi sorotan pihak Kemenkes ketika angka kematian yang tinggi menjadi saksi bisu kenapa masalah ini penting untuk diangkat ke publik.

Kita tidak terjun lebih mendalam terhadap analisis angka kematian. Namun, menurut data Kementrian Kesehatan Indonesia, angka kematian bayi masih relatif tinggi. Ironisnya semua terjadi di daerah pedesaan. Penyebab utama tentunya sekali lagi berkaitan dengan ketersediaan dokter di daerah terpencil yang membuat pengobatan sama sekali tidak Lancar. Dokter masih kurang tersebar di seluruh Indonesia. Kedua belah pihak antara IDI dengan Kemenkes memang sudah saatnya duduk bareng untuk mencari solusi demi perbaikan terus menerus prihal tenaga medis ini.


Latar Belakang IDI & Menkes

Apa sebenarnya tugas dan peran tanggung jawab mereka? Gampangnya adalah IDI itu berkaitan erat dengan kesejahteraan dokter, fokus pada aspek profesi dokter. Sementara Menkes sendiri selaku pihak pemerintahan, tentunya memegang peran lebih luas yang mencakup perumusan kebijakan, pengawasan dan sistem kesehatan nasional.

Menyambung isu fasilitas tersebut di atas, ketersediaan fasilitas kesehatan dan obat-obatan juga terkesan nyangkut sejak dulu akibat alokasi anggaran dan perencanaan yang masih tidak sesuai dengan perkembangan zaman ini. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari insiden pandemi covid-19 misalnya. Konflik yang muncul antara IDI dan Kemenkes terlihat sangat jelas dari cara penanganan pandemi, distribusi vaksin hingga peralatan pendukung alat medis yang seharusnya ditanggapi dengan sigap itu pun menjadi bahan cemooh masyarakat. 

Dari situ muncul pula banyak sekali pelaporan dalam bentuk komplain. Terutama dalam hal pelayanan dan penanganan pasien yang terkesan sangat buruk akibat covid-19 ini. Sudah tau dong yah siapa yang untung siapa yang rugi dalam hal ini? Belum lagi bicara soal dagangan musiman masker yang melahirkan banyak keuntungan sepihak itu. 

Poin terakhir yang seakan tidak pernah ada habisnya, yaitu Regulasi Praktik medis. Termasuk di dalamnya sertifikasi dan lisensi dalam hal praktek dokter. Ini menjadi bulan-bulanan beberapa pihak yang telibat di dalamnya tanpa segan-segan membuka semua borok keburukan yang sudah banyak ditemukan bukti di lapangan. Kita sama-sama tau, ketika seorang dokter magang yang selihai apapun ketika tiba giliran membahas regulasi yang berjelimet untuk bisa praktek di negri tercintanya sendiri itu. Sesusah apa sih? Itu sumber permasalahan ketegangan yang sudah lama berdarah daging itu.

Perbedaan Peran dan Tanggunga Jawab antara IDI dan Menkes 

Walau bagaimanapun, peran yang berbeda tentunya masyarakat sangat berharap kolaborasi antara IDI dan Kemenkes karena menyangkut sistem kesehatan yang efektif dan berkualitas di Indonesia. Belakangan ini banyak beredar isu panas antara kedua pihak yang mengundang dampak sosial kesehatan dari ketegangan masyarakat Indonesia. Menarik untuk kita mengangkat diskusi bagaimana isu ini telah menjadi perdebatan di media sosial, berita dan beberapa kalangan komunitas kesehatan. Bagaimana isu ini bisa mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap sistem kesehatan di tanah air kita?

Solusi dari pemerintah tentunya sangat disambut baik pihak masyarakat. Apalagi di zaman era terbuka sekarang ini, semua serba cepat. Besar harapan kita untuk menggapai kesuksesan demi masa depan sistem kesehatan yang transparan dan mulia sifatnya. Semua ini berkaitan dengan nyawa seseorang, tidak ada baiknya dibiarkan terlalu lama dan terbengkalai. Pasien dan dokter juga banyak yang sudah merasakan kemajuan pelayanan di bidang kesehatan dalam negri. Reformasi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan permasalahan kedokteran, dampak sosial kesehatan juga ikut berperan. 

Semoga semua urusan berjalan lancar, solusi masalah kedokteran bisa mengundang lebih banyak lagi orang-orang hebat untuk duduk berkarya di negrinya tercinta ini. Majulah negara ku, Indonesia Tercinta. Masih banyak orang baik di dunia ini, salam sehat untuk kita semua. Sibelancar!

Posting Komentar untuk "Ketegangan Antara IDI dengan Kemenkes Indonesia"