Diare Mental: Ketika Otak Kita Kebanjiran Informasi
Mental Illness Akibat Otak Kebanjiran Informasi
Tubuh kita dibentuk oleh apa yang kita makan, sementara pikiran kita terus dibentuk melalui panca idra kita, yaitu apa yang kita lihat, dengar, baca, dan alami. Jika tubuh membutuhkan nutrisi yang baik, pikiran juga membutuhkan informasi yang berkualitas.
Flexing terkeren di era masa kini adalah Kemampuan kita untuk Fokus
Di era digital, masalahnya bukan lagi kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi yang tidak semuanya penting, benar, atau berguna. Kelamaan scrolling hp juga fatal akibatnya.
Dulu di masa 1999 ketika mulai bersiap memasuki era Milenium (Tahun 2000) kita membayangkan kecanggihan dunia bakal menyapa kita secara bertahap. Semua orang terlihat sangat haus informasi dan 10 tahun berlalu kita mulai melihat banyak e-commerce yang mulai menjamur. Lazada, blibli, bukalapak, semua berlomba menjadi yang terbaik.
Dan sekarang 16 tahun berselang memasuki tahun 2026, semua informasi kita konsumsi tanpa filter, pikiran bisa penuh, perhatian tercerai-berai, emosi mudah terpancing, dan kita sulit membedakan mana yang penting.
Itulah yang dalam artikel ini disebut secara metaforis sebagai “diare mental” bukan istilah medis, melainkan gambaran tentang pikiran yang terlalu banyak menerima informasi tanpa sempat mencerna dan menyaringnya.
Kenapa sebagian orang tidak bisa memilah milih apa yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke dalam pikirannya?
Kuncinya adalah akal budi sebagai filter: tidak semua yang kita lihat harus dipercaya, tidak semua yang viral harus diketahui, dan tidak semua pikiran harus diikuti. Kenapa mereka sebagian orang bisa terkena mental illness? Jawabannya semata-mata karena mereka bernafas dengan tidak benar.
Napas juga berhubungan dengan kondisi pikiran. Saat stres, napas dapat menjadi lebih cepat dan dangkal; memperlambat napas dapat membantu tubuh menjadi lebih tenang. Karena itu, ketika pikiran mulai penuh, terkadang yang kita butuhkan bukan informasi tambahan, tetapi jeda, napas, dan kemampuan memilih.
7 Poin Utama dari ringkasan artikel utama Sibelancar
1. Tubuh membutuhkan nutrisi
- Apa yang masuk melalui mulut memengaruhi tubuh.
- Makanan yang buruk dapat mengganggu pencernaan.
2. Pikiran juga membutuhkan “nutrisi”
- Input pikiran berasal dari panca indra kita, apa yang kita lihat, dengar, baca, dan alami.
- Informasi adalah salah satu bentuk “makanan” bagi pikiran.
3. Kita mengalami banjir informasi di era yang semakin cepat ini
- HP membuat kita terus menerima berita, video, komentar, dan berbagai rangsangan.
- Masalahnya bukan banyaknya informasi, tetapi ketidakmampuan memilih.
4. “Diare mental” adalah metafora
- Terlalu banyak informasi yang tidak tersaring dapat membuat pikiran kewalahan.
- Bukan diagnosis *mental illness
5. Akal budi adalah filter
- Tanyakan: Apakah info yang kita dapatkan itu Benar? Penting? Berguna? Perlu dipikirkan? Perlu direaksi? itu adalah filter pertama yang harus kita latih terus menerus.
- Tidak semua yang masuk ke kepala harus dipercaya.
6. Kendalikan Nafas, Kendalikan Pikiran:
- Kondisi stres dapat memengaruhi pola napas.
- Saat pikiran penuh: berhenti scrolling, tarik napas, tenangkan tubuh, lalu berpikir.
7. Lakukan “diet informasi”
- * Pilih apa yang dilihat.
- * Pilih apa yang didengar.
- * Pilih apa yang dibaca.
- * Pilih apa yang dipercaya.
- * Pilih apa yang perlu dipikirkan.
- * Pilih apa yang perlu dilepaskan.
“Kalau tubuh kita dibentuk oleh apa yang kita makan, pikiran kita dibentuk oleh apa yang kita izinkan masuk melalui panca-indra."
Kesimpulan
“Apakah informasi ini layak menjadi nutrisi bagi pikiran saya?” Bijaklah dalam mencerna informasi, layaknya ketika kita disodorin sepotong kue kecil, kita seharusnya mengambil secuil kue tersebut untuk kita rasakan dulu, kalau tidak berbahaya atau aman baru kita kupas lebih besar dan kita kunyah.
Dan kalau merasa bagus dan mau lagi, kita boleh mengunyah lalu menelan info (kue) tersebut. Itulah cara sekarang kita mencari informasi.



Posting Komentar untuk "Diare Mental: Ketika Otak Kita Kebanjiran Informasi"